Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Poros dan Teori Pusat Kegiatan Banyak

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Poros dan Teori Pusat Kegiatan Banyak

Obatpenggemukbadan.Id – Menurut Yunus (2006), terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menyoroti dinamika kehidupan suatu kota, khususnya berdasarkan penggunaan lahan kota atau tata ruang kota tersebut. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dikategorikan menjadi empat macam, yaitu pendekatan ekologi, pendekatan ekonomi, pendekatan  morfologi, dan pendekatan sistem kegiatan. Saat ini, kita akan membahas tentang pendekatan ekologi, khususnya berdasarkan teori poros dan teori pusat kegiatan banyak.

  1.    Teori Poros

Teori poros menekankan terhadap peranan transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Babcock (1932) sebagai suatu ide penyempurnaan dari teori konsentris. Menurutnya, struktur keruangan kota dipengaruhi oleh mobilitas penduduk. Mobilitas ini dipengaruhi oleh poros transportasi yang menghubungkan antara CBD dan bagian luarnya. Wilayah yang dilalui jalur transportasi akan mengalami perkembangan yang berbeda dengan wilayah yang tidak dilalui jalur transportasi.

  1.    Teori Pusat Kegiatan Banyak

Teori ini pertama kali dicetuskan oleh C.D. Harris dan F.L. Ullmann (1945). Menurut teori ini, kebanyakan kota-kota besar di dunia tidak hanya memiliki satu pusat kegiatan saja, melainkan hasil perkembangan dan integrasi berkelanjutan dari sejumlah pusat-pusat kegiatan yang terpisah satu sama lain. Pusat-pusat ini bersama dengan daerah di sekitarnya mengalami perkembangan, ditandai dengan gejala spesialisasi dan diferensiasi ruang. Menurut teori ini, wilayah keruangan kota dibagi menjadi pusat kota (CBD) yang menampung sebagian besar kegiatan kota, wholesale light manufacturing yang mengelompok sepanjang jalan dekat dengan CBD (wilayah ini memiliki transportasi yang baik, ruang yang memadai, serta dekat dengan pasar dan tenaga kerja), daerah permukiman kelas rendah, daerah permukiman kelas menengah, daerah permukiman kelas tinggi, heavy manufacturing (zona ini merupakan lokasi pabrik-pabrik besar), business district lainnya (zona ini muncul untuk memenuhi kebutuhan penduduk zona permukiman kelas menengah dan tinggi sekaligus menarik fungsi-fungsi lain untuk berada di sekitarnya), zona tempat tinggal daerah pinggiran, serta zona industri di daerah pinggiran.